Sebagian orang yang pernah mendengar “teori evolusi” atau “Darwinisme” mungkin beranggapan bahwa konsep-konsep tersebut hanya berkaitan dengan bidang studi biologi dan tidak berpengaruh sedikit pun terhadap kehidupan sehari-hari. Anggapan ini sangat keliru sebab teori ini ternyata lebih dari sekadar konsep biologi. Teori evolusi telah menjadi pondasi sebuah filsafat yang menyesatkan sebagian besar manusia. Filsafat tersebut adalah “materialisme”, yang mengandung sejumlah pemikiran penuh kepalsuan tentang mengapa dan bagaimana manusia muncul di muka bumi. Materialisme mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun selain materi dan materi adalah esensi dari segala sesuatu, baik yang hidup maupun tak hidup. Berawal dari pemikiran ini, materialisme mengingkari keberadaan Sang Maha Pencipta.
Di abad ke-20, teori evolusi telah terbantahkan tidak hanya oleh ilmu biologi molekuler, tapi juga oleh paleontologi, yakni ilmu tentang fosil. Tidak ada sisa fosil yang mendukung evolusi yang pernah ditemukan dalam penggalian yang dilakukan di seluruh penjuru dunia
Fosil adalah sisa jasad makhluk hidup yang pernah hidup di masa lampau. Bentuk dan susunan kerangka makhluk hidup, yang tubuhnya segera terlindungi dari sentuhan udara, dapat terawetkan secara utuh. Sisa kerangka ini memberi kita keterangan tentang sejarah kehidupan di bumi. Jadi, catatan fosil lah yang memberikan jawaban ilmiah terhadap pertanyaan seputar asal usul makhluk hidup.
PENDAPAT DARWIN
Teori evolusi menyatakan bahwa semua makhluk hidup yang beraneka ragam berasal dari satu nenek moyang yang sama. Menurut teori ini, kemunculan makhluk hidup yang begitu beragam terjadi melalui variasi-variasi kecil dan bertahap dalam rentang waktu yang sangat lama. Teori ini menyatakan bahwa awalnya makhluk hidup bersel satu terbentuk. Selama ratusan juta tahun kemudian, makhluk bersel satu ini berubah menjadi ikan dan hewan invertebrata (tak bertulang belakang) yang hidup di laut. Ikan-ikan ini kemudian diduga muncul ke daratan dan berubah menjadi reptil. Dongeng ini pun terus berlanjut, dan seterusnya sampai pada pernyataan bahwa burung dan mamalia berevolusi dari reptil.
Seandainya pendapat ini benar, mestinya terdapat sejumlah besar “spesies peralihan” (juga disebut sebagai spesies antara, atau spesies mata rantai) yang menghubungkan satu spesies dengan spesies yang lain yang menjadi nenek moyangnya. Misalnya, jika reptil benar-benar telah berevolusi menjadi burung, maka makhluk separuh-burung separuh-reptil dengan jumlah berlimpah mestinya pernah hidup di masa lalu. Di samping itu, makhluk peralihan ini mestinya memiliki organ dengan bentuk yang belum sempurna atau tidak lengkap. Darwin menamakan makhluk dugaan ini sebagai “bentuk-bentuk peralihan antara”.
Skenario evolusi juga mengatakan bahwa ikan, yang berevolusi dari invertebrata, di kemudian hari merubah diri mereka sendiri menjadi amfibi yang dapat hidup di darat. (Amfibi adalah hewan yang dapat hidup di darat dan di air, seperti katak). Tapi, sebagaimana yang ada dalam benak Anda, skenario ini pun tidak memiliki bukti. Tak satu fosil pun yang menunjukkan makhluk separuh ikan separuh amfibi pernah ada.
Dia saat mengemukakan teori ini, ia tidak dapat menunjukkan bukti-bukti fosil bentuk peralihan ini. Dengan kata lain, Darwin sekedar menyampaikan dugaan yang tanpa disertai bukti.
COELACANTH TERNYATA MASIH HIDUP
Hingga 70 tahun yang lalu, evolusionis mempunyai fosil ikan yang mereka yakini sebagai “nenek moyang hewan-hewan darat”. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan meruntuhkan seluruh pernyataan evolusionis tentang ikan ini. Ketiadaan fosil bentuk peralihan antara ikan dan amfibi adalah fakta yang juga diakui oleh para evolusionis hingga kini. Namun, sampai sekitar 70 tahun yang lalu, fosil ikan yang disebut coelacanth diterima sebagai bentuk peralihan antara ikan dan hewan darat. Evolusionis menyatakan bahwa coelacanth, yang diperkirakan berumur 410 juta tahun, adalah bentuk peralihan yang memiliki paru-paru primitif, otak yang telah berkembang, sistem pencernaan dan peredaran darah yang siap untuk berfungsi di darat, dan bahkan mekanisme berjalan yang primitif. Penafsiran evolusi ini diterima sebagai kebenaran yang tak perlu diperdebatkan lagi di dunia ilmiah hingga akhir tahun 1930-an.
Namun, pada tanggal 22 Desember 1938, penemuan yang sangat menarik terjadi di Samudra Hindia. Seekor ikan dari famili coelacanth, yang sebelumnya diajukan sebagai bentuk peralihan yang telah punah 70 juta tahun yang lalu, berhasil ditangkap hidup-hidup! Tak diragukan lagi, penemuan ikan coelacanth “hidup” ini memberikan pukulan hebat bagi para evolusionis. Ahli paleontologi evolusionis, J. L. B. Smith, mengatakan ia tidak akan terkejut lagi jika bertemu dengan seekor dinosaurus yang masih hidup. (Jean-Jacques Hublin, The Hamlyn Encyclopædia of Prehistoric Animals, New York: The Hamlyn Publishing Group Ltd., 1984, hal. 120). Pada tahun-tahun berikutnya, 200 ekor coelacanth berhasil ditangkap di berbagai tempat berbeda di seluruh dunia.

BERAKHIRNYA SEBUAH MITOS
Coelacanth ternyata masih hidup! Tim yang menangkap coelacanth hidup pertama di Samudra Hindia pada tanggal 22 Desember 1938 terlihat di sini bersama ikan tersebut.
Keberadaan coelacanth yang masih hidup mengungkapkan sejauh mana evolusionis dapat mengarang skenario khayalan mereka. Bertentangan dengan pernyataan mereka, coelacanth ternyata tidak memiliki paru-paru primitif dan tidak pula otak yang besar. Organ yang dianggap oleh peneliti evolusionis sebagai paru-paru primitif ternyata hanyalah kantung lemak. (Jacques Millot, “The Coelacanth”, Scientific American, Vol 193, December 1955, hal. 39). Terlebih lagi, coelacanth, yang dikatakan sebagai “calon reptil yang sedang bersiap meninggalkan lautan untuk menuju daratan”, pada kenyataannya adalah ikan yang hidup di dasar samudra dan tidak pernah mendekati rentang kedalaman 180 meter dari permukaan laut. (Bilim ve Teknik (Science and Technology), November 1998, No. 372, hal. 21).
MANUSIA BERAHANG KERA
Gambar: Rekonstruksi tengkorak manusia Piltdown yang pernah diperlihatkan di berbagai museum
Tengkorak Manusia Piltdown dikemukakan kepada dunia selama lebih dari 40 tahun sebagai bukti terpenting terjadinya “evolusi manusia”. Akan tetapi, tengkorak ini ternyata hanyalah sebuah kebohongan ilmiah terbesar dalam sejarah.
Pada tahun 1912, seorang dokter terkenal yang juga ilmuwan paleoantropologi amatir, Charles Dawson, menyatakan dirinya telah menemukan satu tulang rahang dan satu fragmen tengkorak dalam sebuah lubang di Piltdown, Inggris. Meskipun tulang rahangnya lebih menyerupai kera, gigi dan tengkoraknya menyerupai manusia. Spesimen ini diberi nama “Manusia Piltdwon”. Fosil ini diyakini berumur 500.000 tahun, dan dipamerkan di berbagai museum sebagai bukti nyata evolusi manusia. Selama lebih dari 40 tahun, banyak artikel ilmiah telah ditulis tentang “Manusia Piltdown”, sejumlah besar penafsiran dan gambar telah dibuat, dan fosil ini diperlihatkan sebagai bukti penting evolusi manusia. Tidak kurang dari 500 tesis doktoral telah ditulis tentang masalah ini. (Malcolm Muggeridge, The End of Christendom, Grand Rapids, Eerdmans, 1980, hal. 59.)
Pada tahun 1949, Kenneth Oakley dari departemen paleontologi British Museum mencoba melakukan “uji fluorin”, sebuah cara uji baru untuk menentukan umur sejumlah fosil kuno. Pengujian dilakukan pada fosil Manusia Piltdown. Hasilnya sungguh mengejutkan. Selama pengujian, diketahui ternyata tulang rahang Manusia Piltdown tidak mengandung fluorin sedikit pun. Ini menunjukkan tulang tersebut telah terkubur tak lebih dari beberapa tahun yang lalu. Sedangkan tengkoraknya, yang mengandung sejumlah kecil fluorin, menunjukkan umurnya hanya beberapa ribu tahun.
Penelitian lebih lanjut mengungkapkan bahwa Manusia Piltdown merupakan penipuan ilmiah terbesar dalam sejarah. Ini adalah tengkorak buatan; tempurungnya berasal dari seorang lelaki yang hidup 500 tahun yang lalu, dan tulang rahangnya adalah milik seekor kera yang belum lama mati! Kemudian gigi-giginya disusun dengan rapi dan ditambahkan pada rahang tersebut, dan persendi-annya diisi agar menyerupai pada manusia. Kemudian seluruh bagian ini diwarnai dengan potasium dikromat untuk memberinya penampakan kuno.
Le Gros Clark, salah seorang anggota tim yang mengungkap pemalsuan ini, tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya dan mengatakan: “bukti-bukti abrasi tiruan segera tampak di depan mata. Ini terlihat sangat jelas sehingga perlu dipertanyakan – bagaimana hal ini dapat luput dari penglihatan sebelumnya?” (Stephen Jay Gould, “Smith Woodward’s Folly”, New Scientist, 5 April 1979, hal. 44) Ketika kenyataan ini terungkap, “Manusia Piltdown” dengan segera dikeluarkan dari British Museum yang telah memamerkannya selama lebih dari 40 tahun.

Manusia Piltdown merupakan pemalsuan yang dilakukan dengan merekatkan rahang kera pada tengkorak manusia
Skandal Piltdown dengan jelas memperlihat-kan bahwa tidak ada yang dapat menghentikan para evolusionis dalam rangka membuktikan teori-teori mereka. Bahkan, skandal ini menunjukkan para evolusionis tidak memiliki penemuan apa pun yang mendukung teori mereka. Karena mereka tidak memiliki bukti apa pun, mereka memilih untuk membuatnya sendiri.
KEKELIRUAN PEMIKIRAN TENTANG REKAPITULASI
Teori Haeckel ini menganggap bahwa embrio hidup mengalami ulangan proses evolusi seperti yang dialami moyang-palsunya. Haeckel berteori bahwa selama perkembangan di dalam rahim ibunya, embrio manusia kali pertama memperlihatkan sifat-sifat seekor ikan, lalu reptil, dan akhirnya manusia.
Sejak itu telah dibuktikan bahwa teori ini sepenuhnya omong kosong. Kini telah diketahui bahwa “insang-insang” yang disangka muncul pada tahap-tahap awal embrio manusia ternyata adalah taraf-taraf awal saluran telinga dalam, kelenjar paratiroid, dan kelenjar gondok. Bagian embrio yang diserupakan dengan “kantung kuning telur” ternyata kantung yang menghasilkan darah bagi si janin. Bagian yang dikenali sebagai “ekor” oleh Haeckel dan para pengikutnya sebenarnya tulang belakang, yang mirip ekor hanya karena tumbuh mendahului kaki.
Inilah fakta-fakta yang diterima luas di dunia lmiah, dan bahkan telah diterima oleh para evolusionis sendiri. Dua pemimpin neo-Darwinis, George Gaylord Simpson dan W. Beck telah mengakui:
Haeckel keliru menyatakan azas evolusi yang terlibat. Kini telah benar-benar diyakini bahwa ontogeni tidak mengulangi filogeni

Segi menarik lain dari “rekapitulasi” adalah Ernst Haeckel sendiri, seorang pemalsu yang mereka-reka gambar-gambar demi mendukung teori yang diajukannya. Pemalsuan Haeckel bermaksud menunjukkan bahwa embrio-embrio ikan dan manusia mirip satu sama lain.

Pada terbitan 5 September 1997 majalah ilmiah Science, sebuah artikel diterbitkan yang mengungkapkan bahwa gambar-gambar embrio Haeckel adalah karya penipuan. Artikel berjudul “Haeckel’s Embryos: Fraud Rediscovered” (Embrio-embrio Haeckel: Mengungkap Ulang Sebuah Penipuan) ini mengatakan:
Kesan yang dipancarkan [gambar-gambar Haeckel] itu, bahwa embrio-embrio persis serupa, adalah keliru, kata Michael Richardson, seorang ahli embriologi pada St. George’s Hospital Medical School di London… Maka, ia dan para sejawatnya melakukan penelitian perbandingan, memeriksa kembali dan memfoto embrio-embrio yang secara kasar sepadan spesies dan umurnya dengan yang dilukis Haeckel. Sim salabim dan perhatikan! Embrio-embrio “sering dengan mengejutkan tampak berbeda,” lapor Richardson dalam Anatomy and Embryology terbitan Agustus [1997].

Science menjelaskan bahwa, demi menunjukkan bahwa embrio-embrio memiliki kemiripan, Haeckel sengaja menghilangkan beberapa organ dari gambar-gambarnya atau menambahkan organ-organ khayalan. Belakangan, di dalam artikel yang sama, informasi berikut ini diungkapkan:
Bukan hanya menambahkan atau mengurangi ciri-ciri, lapor Richardson dan para sejawatnya, namun Haeckel juga mengubah-ubah ukuran untuk membesar-besarkan kemiripan di antara spesies-spesies, bahkan ketika ada perbedaan 10 kali dalam ukuran. Haeckel mengaburkan perbedaan lebih jauh dengan lalai menamai spesies dalam banyak kesempatan, seakan satu wakil sudah cermat bagi keseluruhan kelompok hewan. Dalam kenyataannya, Richardson dan para sejawatnya mencatat, bahkan embrio-embrio hewan yang berkerabat dekat seperti ikan cukup beragam dalam penampakan dan urutan perkembangannya.

Artikel Science membahas bagaimana pengakuan-pengakuan Haeckel atas masalah ini ditutup-tutupi sejak awal abad ke-20, dan bagaimana gambar-gambar palsu ini mulai disajikan sebagai fakta ilmiah di dalam buku-buku acuan:Pengakuan Haeckel lenyap setelah gambar-gambarnya kemudian digunakan dalam sebuah buku tahun 1901 berjudul Darwin and After Darwin (Darwin dan Sesudahnya) dan dicetak ulang secara luas di dalam buku-buku acuan biologi berbahasa Inggris.
Singkatnya, fakta bahwa gambar-gambar Haeckel dipalsukan telah muncul di tahun 1901, tetapi seluruh dunia ilmu pengetahuan terus diperdaya olehnya selama satu abad.
TATKALA MANUSIA MENCARI NENEK MOYANGNYA
Walaupun para evolusionis tidak berhasil menemukan bukti ilmiah untuk mendukung teori mereka, mereka sangat berhasil dalam satu hal: propaganda. Unsur paling penting dari propaganda ini adalah gambar-gambar palsu dan bentuk tiruan yang dikenal dengan “rekonstruksi”.
Rekonstruksi dapat diartikan sebagai membuat lukisan atau membangun model makhluk hidup berdasarkan satu potong tulang yang ditemukan dalam penggalian. “Manusia-manusia kera” yang kita lihat di koran, majalah atau film semuanya adalah rekonstruksi.
Ketika mereka tidak mampu menemukan makhluk “setengah manusia setengah kera” dalam catatan fosil, mereka memilih membohongi masyarakat dengan membuat gambar-gambar palsu.
Persis seperti pernyataan evolusionis yang lain tentang asal-usul makhluk hidup, pernyataan mereka tentang asal-usul manusia pun tidak memiliki landasan ilmiah. Berbagai penemuan menunjukkan bahwa “evolusi manusia” hanyalah dongeng belaka.

Penemuan ini jelas menunjukkan pendapat tentang sifat-sifat perolehan yang terkumpul dari satu keturunan ke turunan berikutnya, sehingga memunculkan spesies baru, tidaklah mungkin. Dengan kata lain, mekanisme seleksi alam rumusan Darwin tidak berkemampuan mendorong terjadinya evolusi. Jadi, teori evolusi Darwin sesungguhnya telah ambruk sejak awal di abad ke-20 dengan ditemukannya ilmu genetika. Segala upaya lain dari para pendukung evolusi di abad ke-20 selalu gagal.

Teori evolusi Darwin sesungguhnya telah ambruk sejak awal di abad ke-20 dengan ditemukannya ilmu genetika
Teori evolusi menyatakan bahwa kelompok makhluk hidup yang berbeda-beda (filum) terbentuk dan berkembang dari satu nenek moyang bersama, dan berubah menjadi bentuk yang semakin berbeda satu sama lain seiring berlalunya waktu. Gambar paling atas menampilkan pernyataan ini, yang dapat digambarkan menyerupai proses percabangan pohon. Namun, fakta catatan fosil malah membuktikan kebalikannya. Sebagaimana diperlihatkan gambar paling bawah, beragam kelompok makhluk hidup muncul serentak dan tiba-tiba dengan ciri tubuh masing-masing yang khas. Sekitar 100 filum mendadak muncul di zaman Kambrium. Setelah itu, jumlah mereka menurun (karena punahnya sejumlah filum) , dan bukannya meningkat.
YANG TERSEMBUNYI DI BALIK PERCOBAAN MILLER
Penelitian yang paling diterima luas tentang asal usul kehidupan adalah percobaan yang dilakukan peneliti Amerika, Stanley Miller, di tahun 1953. (Percobaan ini juga dikenal sebagai “percobaan Urey-Miller” karena sumbangsih pembimbing Miller di University of Chicago, Harold Urey). Percobaan inilah satu-satunya “bukti” milik para evolusionis yang digunakan untuk membuktikan pendapat tentang “evolusi kimiawi”. Mereka mengemukakannya sebagai tahapan awal proses evolusi yang mereka yakini, yang akhirnya memunculkan kehidupan.
Melalui percobaan, Stanley Miller bertujuan membuktikan bahwa di bumi yang tak berkehidupan miliaran tahun lalu, asam amino, satuan molekul pembentuk protein, dapat terbentuk dengan sendirinya secara alamiah tanpa campur tangan sengaja apa pun di luar kekuatan alam. Dalam percobaannya, Miller menggunakan campuran gas yang ia yakini terdapat pada bumi purba (yang kemudian terbukti tidak tepat). Campuran ini terdiri dari gas amonia, metana, hidrogen, dan uap air. Karena gas-gas ini takkan saling bereaksi dalam lingkungan alamiah, ia menambahkan energi ke dalamnya untuk memicu reaksi antar gas-gas tersebut. Dengan beranggapan energi ini dapat berasal dari petir pada atmosfer purba, ia menggunakan arus listrik untuk tujuan tersebut.
Atmosfer purba yang Miller coba tiru dalam percobaannya tidaklah sesuai dengan kenyataan. Di tahun 1980-an, para ilmuwan sepakat bahwa seharusnya gas nitrogen dan karbon dioksidalah yang digunakan dalam lingkungan buatan itu dan bukan metana serta amonia.
Ilmuwan Amerika, J. P. Ferris dan C. T. Chen mengulangi percobaan Miller dengan menggunakan lingkungan atmosfer yang berisi karbon dioksida, hidrogen, nitrogen, dan uap air; dan mereka tidak mampu mendapatkan bahkan satu saja molekul asam amino. (J. P. Ferris, C. T. Chen, “Photochemistry of Methane, Nitrogen, and Water Mixture As a Model for the Atmosphere of the Primitive Earth,” Journal of American Chemical Society, vol. 97:11, 1975, h. 2964.)
Terdapat sejumlah temuan yang menunjukkan bahwa kadar oksigen di atmosfer kala itu jauh lebih tinggi daripada yang sebelumnya dinyatakan para evolusionis. Berbagai penelitian juga menunjukkan, jumlah radiasi ultraviolet yang kala itu mengenai bumi adalah 10.000 lebih tinggi daripada perkiraan para evolusionis. Radiasi kuat ini dipastikan telah membebaskan oksigen dengan cara menguraikan uap air dan karbon dioksida di atmosfer.
Keadaan ini sama sekali bertentangan dengan percobaan Miller, di mana oksigen sama sekali diabaikan. Jika oksigen digunakan dalam percobaannya, metana akan teruraikan menjadi karbon dioksida dan air, dan amonia akan menjadi nitrogen dan air. Sebaliknya, di lingkungan bebas oksigen, takkan ada pula lapisan ozon; sehingga asam-asam amino akan segera rusak karena terkena sinar ultraviolet yang paling kuat tanpa perlindungan dari lapisan ozon. Dengan kata lain, dengan atau tanpa oksigen di bumi purba, hasilnya adalah lingkungan mematikan yang bersifat merusak bagi asam amino.
Anehnya, mengapa percobaan Miller masih saja dimuat di buku-buku pelajaran dan dianggap sebagai bukti penting asal usul kehidupan secara kimiawi? Ini sekali lagi menunjukkan betapa evolusi bukanlah teori ilmiah, melainkan keyakinan buta yang tetap dipertahankan meskipun bukti menunjukkan hal sebaliknya.
Kalangan masyarakat awam adalah yang umumnya tidak mengetahui kenyataan ini, dan menganggap pernyataan evolusi manusia didukung oleh berbagai bukti kuat. Anggapan yang salah tersebut terjadi karena masalah ini seringkali dibahas di media masa dan disampaikan sebagai fakta yang telah terbukti. Tetapi mereka yang benar-benar ahli di bidang ini mengetahui bahwa kisah “evolusi manusia” tidak memiliki dasar ilmiah.
@Dari artikel Hamdan Nasrullah yang didapatkan dari site semuabisnis.com




Teori evolusi dan theori kreasi paling empuk dijadikan diskusi yang ngga ada habisnya, Bang.
Eh maaf, cuma mau berbagi link jika ada yang berminat membaca buku aslinya Darwin
The Origin of Species by means of Natural Selection
http://www.gutenberg.org/etext/2009
Saat ini ada juga segelintir dari generasi kita yg mencoba mengambil jalan tengah atas fenomena ini…
Misal dengan mencoba2 menyesuaikan antara teori Darwin ini dengan sejumlah ayat2 di al Qur’an …
Apa mungkin ya ?
Salam kenal pak…
Mungkin ilmu ilmu murni menjadi dasar atau fondasi dari ilmu ilmu lain selain ilmu agama dalam dunia pendidikan… seandainya ilmuan islam besatu dan mampu mementahkan teori teori tersebut akan lebih baik sebab…
Teori teori dasar tersebut diatas sangat membekas bagi kita yang pernah mempelajarinya dan kadang kita mempercayainya karena kita anggap teori inilah yang paling benar… inikan pelajaran biologi SMP & SMA saya….
Artinya kita dibohongi oleh ilmuan ilmuan barat yang sengaja menyesatkan keyakinan kita akan Allah SWT sang pencipta alam semesta dan seharusnya harus dikeluarkan dalam kurikulum….
setidaknya darwin dan penganut teori evolusi berupaya menjelaskan asal usul kehidupan, toh kan hanya teori, bukan kitab suci, teori lawan dengan teori lain, nggak perlu harus menyatukan cendekiawan islam segala, makanya kita kudu cari ilmu yang bener biar pinter, kalau perlu ke israel sana (otaknya hebat lho), jangan bisanya nyontek doang (skripsi, tesis, disertasi), marahin orang dan bangga lagi, he.he
Assalamualaikum warohmatullahhiwabaroktuh..
Salam kenal salah satu saudaraku, kemungkinan beberapa pernyataan yang saudaraku utarakan pernah saya baca dalam beberapa karyanya Harun Yahya..memang tidak semua teman-teman di Indonesia tahu akan hal ini..pelajaran evolusi yang mulai diajarkan sejak di kelas 3 IPA, seolah melekat pada sebagian pelajar,belum lagi jika melanjutkan ke studi science seperti Biologi seperti saya..Artikel2 seperti ini sangat perlu disebarluaskan, mungkin dari yang kecil2 ini lama2 menjadi bukit..setahu saya pelajaran tentang penciptaan sudah diajarkan di beberapa univesitas di dunia..mungkin sesudah banyak orang tahu,terutama kalangan akademisi di beberapa uinversitas terkemuka di Indonesia, peljaran tentang penciptaan akan dimasukkan…
Tetapkan semangat untuk berjuang…….
bagi gw darwin n para ilmuwan yang lain itu juga terbatas mirip kite2 ini. soooooo teori diapun hannya sekedar pendapat yang pasti juga memiliki keterbatasan. Nah kita uda dijaman modern yang memiliki pemikiran yang lebih maju n modern. coba kita nggak usah melihat mereka n kita lebih kreatif untuk berpikir sesuatu yang tidak perlu melihat dasar-dasar pemikiran para ilmuwan itu. mari kita buktikan bahwa kita lebih modern dari pendapat kuno itu n berpikir lebih jerni n lebi masuk logika disesuaikan dengan kepercayaan kita masing-masing. GBU
AWW>
Tanpa bermaksud memebesar-besarkan “usaha” dari para ilmuwan evolusionis dalam menyingkap tabir asal-usul kehidupan dan mengecilkan kekerdilan teori mereka, saya cukup salut dengan mereka. Mereka telah berusaha untuk melampaui kekuasaan Allah dalam hal penciptaan dengan keterbatasan pemikiran yang mereka miliki. Kalau kita mau jujur dan fair, sebagai Muslim terkadang kita hanya mengagung-agungkan Al-Quran dan Sunnah untuk menghadapi fakta-fakta sains yang menyimpang. Padahal, tidak semua orang setuju dan percaya dengan dalil kita, terlebih untuk orang nonagama dan nonIslam. Selama ini, menurut subjektivitas saya, kita terlalu sibuk mencocok-cocokan dalil Qur’an dengan ilmu pengetahuan. Ketika telah cocok, dengan bangganya kita mengklaim bahwa Al-Qur’an telah sesuai dengan ilmu pengetahuan (atau malah sebaliknya?). Saya salut dengan seorang ilmuwan Irak (maaf saya lupa namanya) yang berhasil menemukan untaian ayat Qur’an dalam DNA karena terinspirasi dengan ayat Qur’an dalam surat An-Nur. Akan lebih sempurna jika kita membantah dengan argumentasi ilmiah sembari diperkuat dengan dalil-dalil yang ada. Tambahan, evolusi juga tidak sesuai dengan hukum II Termodinamika……
Yang benar datangnya dari Allah dan yang salah dari saya yang fakir….
WWW>
Seharusnya kaum religius tidak perlu terlalu emosional dalam menanggapi teori evolusi, ketika para “evolusionist” sendiri adalah para ilmuwan yang hampir pasti sadar apa yang dimaksud dengan TEORI.
Sebaiknya kaum religius juga mengerti apa itu TEORI, apa itu POSTULAT, apa itu HIPOTESIS, sebelum terjerumus pada emosi yang gak jelas juntrungannya.
Salam
salam!
sebentar dulu……. apa anda tahu beda agama dengan ilmu pengetahuan?
anda tahu kan?
timbulnya agama itu, didasari atas keyakinan,
sedangkan adanya ilmu pengetahuan diawali dengan ketidak percayaan (apatis).
so, agama dengan ilmu pengetahuan itu tidak bisa disatukan, dan tidak akan pernah bersatu, namun bisa berjalan beriringan.
jangan terlalu fanatik dengan agama tertentu,,,,
karena kita diciptakan oleh Tuhan (Allah, Yesus, Ida Shang Hyang Widhi, Dan sebutan lain untuk Tuhan) beranekaragam. bukankah variasi dalam ilmu biologi itu merupakan karunia Tuhan yang patut disyukuri.
kalau mau berteori silahkan gunakan metode ilmiah dong!
kalau anda tidak tahu bagaimana metode ilmiah, neh saya kasi tahu langkah-langkahnya :
1 menemukan masalah
2 merumuskan masalah
3 merumuskan hipotesis
4 kajian teori
5 metode penelitian
6 pengumpulan data
7 analisis data
8 pembahasan
9 simpulan dan saran
10 daftar acuan
11 lapiran (bila ada)
langkah tersebut dapat dilihat pada buku metodologi penelitian.
selamat mencoba!
salam!
@ Mr Tora25j
“haughty” tapi ngk paham akan tulisan diatas mungkin pantas anda dapatkan!.
Kalau kita bicara teori evolusi berarti itu menyakut “evolusi manusia” dan manusia itu di ciptakan oleh tuhan (Allah SWT) dan ini menyangkut ke Esaan Allah. Jika ilmu pengetahua tidak dilandasi oleh agama nanti bakal ada orang2 seperti anda ini.
Perhatikan QS Lukman 20
Dari Quran diatas berarti Allah menginginkan kita memiliki Ilmu Pengetahuan yang dilandasi Kitab (Agama Allah), berjalan seiring, beragama dengan landasan akal dan berakal dengan landasan agama.
Satu lagi yang perlu anda tahu bahwa anda jangan mencampur adukan antara Allah (Allah SWT dalam Islam) dengan nama2 yang lain untuk sebutan tuhan. Ingat Allah adalah Esa, tidak beranak dan tidak diperanakan! Tuhan bg kristiani itu tri tunggal (3 dalam 1) ada bapak ada anak.
Paham!.
Salam hormat,
BIsa ‘g saya mnt kirimkan data manusia yang paling terpengaruh di dunia ke email saya
zulfan.effendi@ymail.com
ingin berbagi link aj
http://superstar21.wordpress.com
teori evolusi ,teori yg rumit sekali,sampai2 darwin sendiri ga bisa memaparkan fakta2 teorinya. baru sedikit fakta2 yg ada,mungkin satu saat akan ditemukan bukti2nya. tetapi sudah mending ketimbang keyakinan,yg hanya berdasarkan rasa yakin.kalau seandainya nanti teori evolusi terbukti kebenarannya bukan berarti ALLAH SWT (TUHAN) itu tidak ada.evolusi adalah SUNATULLAH. ALLAH memberi pengetahuan kepada mahklukNya menurut kadar pengetahuan mereka. ketika tidak ada teori evolusi, ALLAH menerima pemikiran makhlukNya tentang DIA(ciptanisme),dan nanti misalnya manusia menganut teori evolusi ALLah pun ADA disana. Tuhan itu universal gitu lho kayaknya..Tuhan itu ADA tetapi dimana ,kayak apa ,dan bagaimana.. manusia tidak ada yg tahu ,misteri banget. kemudian manusia mencaricari siapa Tuhan mereka .maka lahirlah berbagai macam pemikiran/keyakinan manusia tentang Tuhan.
Sesungguhnya semua tidak berjalan begitu saja’ termasuk Teori evolusi…saya tidak pernah yakin hal itu tidak diperhitungkan’ Karena Hal yang ’salah’ adalah suatu penilaian untuk kita agar lebih ter arah dalam memahami salah dan benar’ krn setiap keyakinan tentang kebenaran pastilah harus di uji kebenarannya,…
siapapun orangnya’dan apapun jenis teorinya…tetaplah harus kita hargai,..krn dengan tekad yg kuat mereka berdiri menghadap peradaban’…dalam peletakkan batu pertama untuk kita’ dalam mengupas sisi2 kehidupan yg tersembunyi….. salah benar itu relatif jika meraka salah’ maka pasti suatu saat generasi selanjutnyalah yg menjawabnya….
ssuatu itu tidak akan pernah benar jika tidak disandingkn dng sesuatu yg salah….
jika kita terlalu ,menyalahkan mereka ‘…saya yakin kesalahannya 1000x pun akan lebih baik dari penilaian anda…
krn dia tidak sekedar berfikir’ tp ia telah mampu untuk berbuat……….
salam perubahan…………………………….
waduh pendiri blog ini sapa ya??? namanya juga teori, pasti ada sanggahannya..
kurang bijak kalo mengatakan bahwa teori darwin adalah bohong belaka, why?
darwin disini mengungkapkan pendapatnya, just opinion…
penelitian tentang teori darwin pun masih dilakukan hingga saat ini..
sekarang saya tanya apakah di all of Holy Book disebutkan asal-muasal triceratops, pterodactyl and kerabatnya ???tidakkan?? makanya namanya juga manusia, ingin mengetahui sesuatu merupakan sifat alami….
jadi plis dong ni berita ga ada guna….