Tim kampanye Nasional SBY-Boediono, Andi Mallarangeng mengaku di depan ribuan peserta kampanye dialogis cawapres Boediono di Makassar, Rabu (1/7), bahwa mengapa dirinya tidak mendukung salah satu calon presiden (capres) yang orang Bugis (Jusuf Kalla, red), padahal dia juga berasal dari Sulawesi Selatan.
“Saya sering ditanya, mengapa tidak mendukung orang Bugis saja? Saya jawab karena orang Bugis itu, maradeka to Ugie, adana’ napapuang (merdeka orang Bugis karena prinsipnya yang dipertuan, bukan orang perorang atau pribadi),” ungkap Andi Malarangeng dalam orasi politiknya di GOR Mattoanging, Makassar, Rabu (1/7).
Malarangeng menegaskan, memilih orang untuk didukung jangan karena orangnya, atau karena suku yang sama. “Tapi, karena dia orang yang terbaik, tidak perduli orang itu orang dari suku mana, orang harus obyektif,” tutur juru bicara Kepresidenan ini.
Menurut dia, memilih presiden dan wapres bukan memilih gubernur yang akan memipin satu provinsi namun akan memerintah seluruh Indonesia. Sebab, masa depan bangsa ada di pundak orang itu. Karenanya harus memilih yang terbaik. “Kalau tidak memilih yang terbaik, bisa rusak bangsa ini. Saya mengenal SBY selama 5 tahun tidap hari ketemu saya tahu betul orangnya, dan dialah orang terbaik yang akan melanjutkan pemerintahan,” serunya.
Dalam orasinya saat mendampingi kampanye cawapres Boediono tersebut, Andi Mallarangeng menegaskan, saat ini belum waktunya bagi orang Bugis menjadi pemimpin nasional. “Lalu kapan anak Sulawesi Selatan? Ada waktunya. Tapi saat ini yang terbaik adalah SBY-Boediono,” tandasnya pula. Ikut hadir kedua saudara Andi, yakni Rizal Malarangeng dan Choel Malarangeng di panggung kampanye tersebut .
Namun, saat jeda SBY di Hotel Imperial Aryaduta, Makassar, Andi Mallarangeng menyebut Jusuf Kalla adalah orang tuanya. Tapi ketika diperhadapkan pada pilihan politik, maka dirinya tetap bebas memilih dan tidak harus Jusuf Kalla. “Kami tidak pernah menyerang karena JK itu orang tua kami, JK juga adalah sesepuh orang Sulsel. Tapi maaf karena pilihan politik maka kami bebas memilih sehingga kami pun bekerja semaksimal mungkin untuk pilihan kami termasuk dalam kampanye yang bekerja 100 persen,” tegasnya.
Andi Malarangeng menjelaskan, ketika SBY diserang maka itu tugasnya untuk membela. Tapi saat Boediono yang diserang, maka Rizal yang maju. Dan jika kampanye-kampanye yang diserang, maka Zulkarnain Mallarangeng yang akan menghadapi.
Mahasiswa Bakar Poster SBY-Boediono
Aksi puluhan mahasiswa menolak kedatangan Boediono di Makassar, Sulsel, diwarnai pembakaran poster bergambar SBY-Boediono di depan kampus Universitas 45 Makassar, hari Rabu (1/7). Puluhan mahasiswa Universitas 45 yang tergabung dalam Aliansi 45 ini berorasi dan membakar ban bekas di depan kampusnya sehingga memacetkan arus kendaraan selama satu jam. “SBY-Boediono adalah antek-antek kapitalis yang dididik Amerika untuk meneruskan ekonomi liberal di Sulsel,” teriak salah satu orator.
Menurutnya mahasiswa, pasangan SBY-Boediono dianggap antek dari kaum kapitalis yang telah dididik oleh bangsa Amerika untuk meneruskan pemahaman ideologi Neoliberalisme. “Kami mengecam kedatangan ke Makassar. Boediono adalah antek kapitalis yang didik oleh Amerika yang berpaham neoliberalisme,” kata salah satu aktivis yang enggan disebut namanya.
Awalnya, para aktivis ini membakar poster bergambar Boediono, sekitar pukul 16.00 Wita sore. Kemudian menghentikan aksi karena arus kendaraan sudah macet total. Sekitar pukul 17.30 Wita petang, aksi dilanjutkan dengan membakar poster bergambar SBY-Boediono dan membakar ban bekas. “Kami mengharamkan pasangan SBY-Boediono untuk di pilih pada Pilpres 2009 mendatang,” lanjut orator demonstrasi. Namun hingga aksi pembakaran poster tersebut berakhir, tidak ada pengawalan dan pengawasan dari aparat kepolisian.




lah, ini juru bica presiden kok kayak gini? gimana presidennya ya?, walah-walah… hancur dah negara ini.
Saya milih SBY kalo bicara kapasitas…tapi itukan relative…
Gimana kalo SBY kebetulan suku Papua, ambon, bugis, atau padang dan Dayak apakah memungkinkan untuk bisa menang kayaknya susah juga ya….karena untuk jadi president di Negeri ini takaran yang paling jelas dia harus jawa mengingat angka pemilih suku Jawa terbilang paling besar di Negeri ini…
Jadi kesimpulannya emang benar bung Alfian belum saatnya orang bugis jadi president sebab pinggul wanitanya belum siap beranak banyak biar jumlah pemilih meledak…
Coba kalo JK orng jawa wow…! biar sederhana tetep aja sangat memadai untuk jadi prsedent sebab didukung oleh kaum yang mayoritas gitukah maksudnya bang alfian …
Pak Andi Alfian, kalo keliru itulah sisi manusiawinya bpk…
Lalu minta maaf itulah mulyanya bpk…
Tpi kalo bpk merasa sempurna setelah di posisi JUBIR PRESIDENT
Ingatlah ketika Iblis diminta sujud (hormat bukan menyembah) kepada iblis…
Dan Iblis tidak mau dengan arogan, jangan ditiru ya abang yang ganteng lagi pinter
Belum saatnya orang kulit hitam jadi presiden Amerika 2009. Apakah Anda-anda setuju?
Tidak saatnya orang Aceh bayar pajak?
Belum saatnya orang Bugis menjadi pahlawan seperti Hasanuddin?
Belum saatnya orang Batak menjadi Profesor?
—-
Bangkit dan sadar-lah wahai manusia yang berhati nurani, yang berakal budi, yang berjiwa sosial.
Begitu lancangnya seorang manusia menilai kapabilitas hanya dari suku atau agama.
Begitu lancangnya seorang manusia mendiskreditkan kodrat Tuhan atas kelahiran manusia sebagai suku ini atau itu?
Sadarkah kalian wahai manusia?
Apakah karena mata hati kalian sudah dibutakan karena mendewakan seorang sosok?
Begitu arogankah manusia Indonesia saat ini? Semoga keadilan, kebenaran, atau Tuhan memberi secercah cahaya…
Sebagai warga negara Indonesia, saya menyatakan sangat kecewa dengan pernyataan seorang Andi Mallarangeng yang bergelar DOktor Ilmu Politik sekaligus sebagai Juru bicara Presiden (incumbent) SBY. Mengapa saya begitu kecewa dengan beliau, karena beliau secara langsung maupun tidak langsung telah menganggap orang Sulawesi Selatan sebagai warga negara kelas dua di negeri ini.
Andi Mallarangeng mencoba berkilah dengan menyatakan bahwa pernyataannya itu bukanlah pernyataan Rasialis. Coba anda simak, bagaimana jika seseorang menganggap dan berkata bahwa,
orang dari suku A belum saatnya menjadi pemimpin di negeri ini….?
bukankah sama artinya dengan menganggap orang dari suku tersebut sebagai warganegara kelas 2, karena tidak diberi kesempatan yang sama….?. Hentikan silat lidah anda bung Andi, bagaimanapun pernyataan anda tersebut telah mengiris dada setiap kami yang menganggap bahwa negara ini bukan milik suku A atau suku B, bukan milik agama A atau agama B tetapi negara ini milik kita bersama, rakyat Indonesia.
Saran saya, minta maaflah kepada rakyat Sulawesi Selatan yang telah anda sakiti hatinya. Permohonan maaf juga adalah bentuk JIWA BESAR seorang pemimpin, jika untuk hal tersebut saja anda tidak meminta maaf bagaimana bisa anda mengatakan bahwa diri anda seorang yang berjiwa satria, dan itu juga berarti bahwa pemimpin anda telah salah memilih orang sebagai juru bicaranya.
salam
Kalau pak Andi tahu benar Pribadi Bapak SBY, itu oke-oke saja. Tetapi pak Andi juga harusnya juga menghargai pribadi orang lain, menjaga perasaan kami sebagai orang sulawesi selatan. Saya tahu beban pak Andi untuk memenangkan pak SBY-BOEDIONO sangat berat, tetapi tetap gunakan cara-cara yang terhormat untuk mencapainya. Jangan sampai menganggap orang dari tempat kelahiran sendiri sebagai warganegara kelas dua, dengan menyatakan belum saatnya …itu menurut saya sama artinya tidak memberi kesempatan yang sama dan sederajat.
Ingat bung Andi, menang atau kalah adalah resiko sebuah perjuangan. Juga ingat kemenangan bukanlah tujuan akhir dari sebuah demokrasi yang dengan susah payah telah dibangun ini, jika cara-cara mencapainya sampai melukai hati orang lain walaupun ia minoritas dalam populasi, walaupun ia minoritas dalam survei.
Saia sangat-sangat setuju dengan NUSANTARAKU.
Apapun sukunya, semua berhak maju sebagai presiden dan mendapat kesempatan yg sama.
Apapun sukunya, ( dan – seharusnya- apapun agamanya), semua berhak maju sebagai presiden dan mendapat kesempatan yg sama.
Dan ada yang bertanya di Politikana, Rizal Malarangeng itu tim sukses atau duri dalam daging sebenernya?
Hi everybody.
sbnrnya gw udah muak idup dsini. mau tmbah 5 taun lg kayanya. muntah dah…
tp biarlah.
bukan saatnya kita ngoceh di blog yg ga penting ini.
enak ga dngernya?
woi ngeng (malarangeng bradershit). baru 5 taun ama sby aj ude so tau lu.
apa lu tau, knp sby bs dpet nobel ky gt?
ap lu sadar sby kampanya di luar jadwal?
apa saatnya orang yg ga disiplin lu agung2 kan bwt mimpin lu 5 taun mndatang?
gw tanya ama lu…knp tim sukses lu ga ikt protes masalah DPT?
trus coba pikir,
1 orang golput, dilarang keras pemerintah coy.
gmn yg blm ada namanya d dPT yg lbih dri 2 JUTA orang?
mw dibiarin aja?
tp trserah c. gw cm bs ngoceh. ga bisa b’buat. aplg kalo sby jd presiden lg. dokem gw. lu bekoar.
jabatan lu naek. kaya raya. ttangga gw masih blom bisa belanja bwt warung kcilnya.
Sory bhasa gw katro. gw cuma bocah. ga tau apa2. ini belum smw kata hati gw. males nulis yg ga penting ky gni.
cm skedar kasih sdikit unek2 aj. thx
Rblsthnkrz_
Wahai Kawan- kawan marilah kita semua berjiwa besar dan lemah lembut dalam menyikapi sesuatu yang menimpa diri kita dan janganlah kita ikuti hawa nafsu, karena amarah nafsu dan kebencian adalah teman setan, dan setan selalu membisikan hati kita untuk selalu berbuat kejahatan.