Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, rabu malam (21/10) telah mengumumkan para pembantunya yang duduk di Kabinet Indonesia Bersatu II. Tak ada yang istimewa dari nama-nama menteri yang ditunjuknya. Sebab setelah SBY melakukan audisi terhadap para calon menterinya, media massa telah bisa menebak susunan anggota kabinet baru.
Namun, sesaat setelah SBY mengumumkan nama Menteri Kesehatan yang baru adalah Endang Rahayu Sedyaningsih, baru publik tersentak. Pasalnya, dokter wanita yang terakhir menjabat sebagai Direktur di Center for Biomedical and Pharmaceutical Research & Programme Development National Institute of Health Research & Development-MOH (Puslitbang Biomedis dan Farmasi) sejak Februari 2007 ini tersandung masalah serius.
Mantan Menkes Siti Fadilah Supari menyebut Endang merupakan orang yang paling dekat dengan NAMRU 2 (The US Naval Medical Research Unit Two). Dia memiliki akses untuk keluar masuk dengan bebas di Namru. NAMRU-2 adalah sebuah laboratorium penelitian biomedis yang meneliti penyakit menular untuk kepentingan dan keamanan anggota angkatan laut dan marinir Amerika Serikat (AS). Laboratorium ini juga dicurigai melakukan operasi intelijen yang secara sengaja menciptakan berbagai jenis virus, bakteri, dan berbagai penyakit untuk disebarkan secara massal di Indonesia.
Atas penunjukan Endang Sedyaningsih sebagai Menkes menggantikan Siti Fadilah Supari ini, pengamat politik LIPI Syamsuddin Haris mengatakan bahwa kabinet SBY merupakan Kabinet Neoliberal. “Ini kabinet neoliberal yang cenderung tunduk pada kepentingan Amerika. Ibu Siti ditendang. Padahal dia berhasil karena bisa melawan negara besar seperti Amerika dan WHO,” katanya, Kamis (22/10). “Mungkin karena SBY terlalu tunduk pada Amerika dan WHO,” lanjutnya.
Anggota Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, Sp.OT bahkan mengatakan bahwa terpilihnya Endang merupakan hasil lobi dari intelijen asing. Menurutnya Endang merupakan perwakilan Departemen Kesehatan yang ada di Namru 2. Bagi Jose, hal ini merupakan kemenangan NAMRU.
“Saya memang nggak kenal dekat dengan dia (Endang). Tapi saya tahu dia membawa virus kita ke luar negeri, seperti Vietnam. Berarti, mereka (Namru) sudah tahu cetak DNA dan membuat vaksin. Ini terkait bisnis. Kalau cetak DNA, mereka bisa utak-atik virus lagi. Perbuatan Bu Endang itu tidak bisa diterima,” beber Joserizal, Kamis (22/10).
“Presiden harus menyadari. Ini bukan persoalan ekonomi saja. Negara kita diisolasi. Mau secanggih apapun sistem perekenomian kita, jika rakyat kita dikepung virus, tentu ini hal yang membahayakan keamanan negara,” tegasnya.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin bahkan mengaku prihatin dan kecewa. ”Saya merasa prihatin dengan terpilihnya Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai Menkes, maka akan mempermalukan dua orang sekaligus,” kata Din di Jakarta (22/10).
“Yang dipermalukan adalah menteri lama yang membantu pemerintah kemarin dan cukup sukses (Siti Fadilah Supari), kemudian yang diangkat sebagai menteri adalah orang yang sempat dimutasi menteri lama,” ujar Din.
Din juga mengaku kecewa ketika mengetahui orang yang diangkat SBY sebagai Menkes, yakni Endang, ternyata dekat dengan lembaga penelitian Amerika Serikat dan lembaga-lembaga penelitian asing lainnya.
“Yang diangkat sebagai menteri justru yang mengemuka dan dikenal dekat negara asing, peneliti asing, yang merugikan rakyat Indonesia,” sesal Din. @suara-islam.com




itulah kabinet indonesia bersatu, BERSATU MENDUKUNG AGENDA NEOLIBERAL DI INDONESIA