Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2009

ahmad_syafii_maarifProf. Dr. Syafi’i Maarif, mantan Ketua PP Muhammadiyah, sering dipanggil ‘Buya’, kemarin, menulis artikel opini, yang memberikan kejelasan tentang karakter para politisi Idonesia, menurut beliau, tak lebih karakternya seperti kerak. Kerak nasi, yang keras-keras, tapi disiram dengan air sedikit, sudah menjadi lembek. (Republika, 27/5/2009)

Buya Syafi’i memberikan penilaian terhadap para politisi, khususnya para politisi Islam, yang karakternya mirip dengan kerak. Tidak memiliki integritas, komitmen, sikap dan pendirian yang teguh, mudah berubah-berubah dalam hitungan menit, suka berkompromi dengan kebathilan demi kepentingan kekuasaan, mengejar kekuasaan dengan menghalalkan segala cara, tidak beretika dalam berpolitik, memanipulasi agama dengan seenaknya, tanpa merasa bersalah, tidak berpihak kepada al-haq, sangat oportunistik, dan tidak berpihak kepada kepentingan umat dan rakyat, rakus dan tamak, dan hidupnya hanyalah mengabdi kepada tiga ‘ta’ (tahta, harta, dan wanita). Itulah kalau dapat disimpulkan dari pandangan Buya Syafi’i, yang sangat prihatin melihat perilaku politisi, khususnya politisi Islam.

Tentu, yang bingung bukan hanya Buya Syafi’i saja, tapi juga umat sangat bingung, karena sulit untuk menyimpulkan dan mensikapi pandangan-pandangan dan arah dari para politisi Islam. Karena selalu berubah-ubah, dan tak tentu arahnya. Mantan pimpinan Muhammadiyah, yang dikenal dengan ‘urang awak’, dan memiliki pandangan yang sangat moderat itupun, sudah jengkel, melihat karakter para polisiti Islam, sampai mengatakan mereka itu adalah ‘kerak’. Kejengkelan ini muncul tak lama usai pemilu 2009, dan penghitungan suara belum selesai, para politisi Islam sudah sibuk membicarakan soal, apalagi kalau bukan yang berkaitan dengan ‘ta’ (tahta, harta, dan wanita). Tapi, kali ini yang sibuk dibicarakan, ‘ta’ yang pertama yaitu ‘tahta’, yang wujudnya adalah koalisi.

Pemilu hasilnya belum diumumkan  oleh KPU, para pimpinan partai politik, khususnya partai Islam, sudah sibuk dan memutar otak, bagaimana mendapatkan ‘ta’ pertama yaitu ‘tahta’, dan mereka berduyun-duyun mendatangi ‘Istana’ Cikeas, dan mendaftarkan diri menjadi gerbong yang nantinya ditarik oleh lokomotif, dan masinisnya tak lain, Presiden SBY, yang telah diusung Demokrat untuk maju menjadi calon presiden. Mereka datang ke ‘Istana’ Cikeas, tak lain ingin menyatakan sebuah janji kesetiaan, janji ketaatan, dan janji segala janji kepada Demokrat dan Presiden SBY, selaku lokomotif. Lokomotif yang mereka anggap paling nyaman, dan yakin tidak akan mogok, nantinya di tengah jalan, dan akan menang.

Bagi Buya Syafi’i Maarif, yang usianya sudah lebih dari 70 tahun lebih, dan sudah makan asam garam, dan segala pengalaman sudah dijalaninya, tetap saja bingung, terutama ketika melihat perilaku para politisi di zaman kuda doyan ‘burger’ ini. Kenapa, menurut Buya, karakter para politisi, yang sama sekali tidak memiliki etika sedikitpun dalam bab urusan politik, dan seperti sangat mudah, memutar haluan, atau berubah sikap. Partai-partai Islam yang dahulunya, sudah menyatakan janji setia dan mendukung habis,sampai boleh dibilang ‘forever’ alias selama-lamanya kepada SBY, tiba-tiba seperti ‘pantatnya’ terkena sengatan listrik tegangan tinggi, dan semuanya berteriak, ketika Presiden SBY mengumumkan pilihannya, yang dipilih menjadi cawapres adalah Gubernur BI, Prof.Dr.Boediono. Bahkan, ada partai yang terang-terangan menolak, di media cetak dan elektronik,pengurusnya tak terima atas pilihan Presiden SBY yang memilih Boediono.

Tapi, memang dasarnya politisi ‘kerak’, dan benar-benar karakternya ‘kerak’, yang pekerjaannya hanyalah berebut tulang-tulang kekuasaan, maka ketika para politisi ‘kerak’, yang teriak-teriak, seperti orang kesurupan itu, disiram dengan air sedikit saja, mereka sudah menjadi lembek, dan suaranya yang nyaring mengkrtik dan disertai ancaman, akhirnya hilang bersama dengan angin kekuasaan. Karena, sekerat tulang kekuasaan yang bernama ‘tahta’, yang dijanjikan sudah cukup menjinakkan mereka. Kemudian, tak ada lagi suara ‘dissent’ (menentang) yang terdengar. Tentu, Presiden SBY dan Boediono, tersenyum-simpul melihat perilaku mereka.

Sekarang, menjelang pilpres, tiba-tiba muncul hak angket di DPR, menyelidiki berbagai kecurangan dan penyimpangan, pemilu lalu. Hak angket (penyelidikan) diputuskan oleh Paripurna DPR, yang akan melakukan penyelidikan, khususnya terhadap DPT (Daftar Pemiih Tetap). Hak angket didukung oleh Golkar (34), PDIP (58), PKB (16), PPP (11), PAN (3), BPD (5), dan PDS (1), totalnya yang mendukung sebanyak 129 suara.

Sedangkan yang menolak hak angket, adalah PD (43), PKS (22), dan PDS (2), jumlah yang menolak 73 suara. Tentu, yang menjadi persoalan PD, karena diantara yang menginginkan hak angket itu, terdapat partai-partai yang menjadi mitra koalisi pemerintah, yang oleh PD disebut sebagai tindakan ‘tidak elok’. Tapi, apakah masih berguna yang namanya koalisi itu, kenyataannya, seperti Golkar dengan Demokrat sudah tidak ada ikatan apa-apa, sudah pisah ranjang, sejak Presiden SBY memilih Boediono, dan menceraikan JK, yang ketua umum Golkar?

Di sini posisi PKS, yang sangat setia ‘abis’ dengan Demokrat dan SBY, tidak mau mendukung hak angket, yang dilakukan anggota fraksi lainnya, padahal tujuannya untuk melakukan penyelidikan terhadap kecurangan yang mungkin terjadi di pemilu 2009 lalu. Jangan sampai terulang di pilpres nanti. PKS seharusnya ‘taawanu alal birri wat taqwa, bukan taawanu alal isymi wal udwan’.

Masih lebih baik kalau sekedar menjadi politisi ‘kerak nasi’, daripada nantinya menjadi politisi ‘kerak neraka’, dan ini mudah-mudahan dipahami para politisi. Hidup di dunia, tidak lama, bung!. Wallahu ‘alam.  sumber: eramuslim.com

Iklan

Read Full Post »

hamas

Hamas mengecam pernyataan Ahmed Qurei-penasehat senior Presiden Palestina Mahmoud Abbas-yang mengatakan bahwa pemukim Yahudi tinggal di wilayah pendudukan Tepi Barat dan menjadi warga negara Palestina jika negara Palestina merdeka terbentuk.

Juru Bicara Hamas Fawzi Barhoum menyatakan, pernyataan Qurei adalah pernyataan yang berbahaya dan mencurigai pemerintahan Abbas telah melakukan “kesepakatan ilegal” dengan rezim Zionis yang memungkinkan rezim penjajah itu terus membangun pemukiman-pemukiman ilegalnya di Tepi Barat.

“Pernyataan Qurei berbahaya karena mereka telah memberikan legitimasi bagi Israel untuk mencuri tanah milik rakyat Palestina,” kata Barhoum.

“Pernyataan semacam itu bertujuan untuk membantu Israel keluar dari krisis, terutama pada saat dunia internasional melakukan tekanan agar Israel menghentikan pembangunan pemukimannya di tanah Palestina,” tukasnya.

Meski mendapat tekanan dunia internasional, termasuk dari sekutu dekatnya, AS, Israel dibawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu tetap menolak menghentikan perluasan pemukiman ilegalnya di Tepi Barat. Tindakan Israel jelas telah melanggar berbagai kesepakatan dengan Palestina yang telah dilakukan selama ini, antara lain kesepakatan Peta Jalan Damai yang mewajibkan Israel menghentikan pembangunan pemukimannya di wilayah pendudukan.

Belakangan, rabi-rabi Yahudi Zionis ikut memprovokasi tentara-tentara Israel agar melawan komandan-komandan mereka yang memerintahkan penghancuran pos-pos pemeriksaan Israel yang dibangun secara ilegal di Tepi Barat. Para rabi Yahudi itu memakai dalih ajaran kitab suci Yahudi untuk mempertahankan fasilitas-fasilitas ilegal Israel di Palestina.

“Kita suci Taurat melarang umatnya untuk ikut serta dalam berbagai tindakan yang mencabut akar keyahudian di bagian manapun di tanah suci kami,” demikian pernyataan kelompok rabi ekstrimis di Israel.

Kelompok itu menyatakan,”Kami menyerukan semua personel militer dan polisi untuk menolak perintah pencabutan pos-pos pemeriksaan di wilayah pendudukan, karena tindakan itu bertentangan dengan nilai-nilai dalam Taurat.”

Para rabi ekstrimis itu mengeluarkan pernyataan tersebut setelah PM Israel Benjamin Netanyahu dan Menhan Ehud Barak menyatakan akan menggusur 26 pos-pos pemeriksaan yang dibangun secara ilegal oleh Israel seperti yang dituntut dalam kesepakatan Peta Jalan Damai. (ln/prtv/xinhua) eramuslim.com

Read Full Post »

buku_MengasuhBuahHatiSebagai orangtua, Anda hanya memiliki waktu beberapa tahun untuk menyiapkan anak menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan matang dalam menghadapi dunia berikut segala tantangannya. Dalam waktu yang singkat itu, tidak ada pilihan lain kecuali membesarkan anak dengan cinta dan logika.

Konsep Cinta dan Logika dikembangkan oleh Jim Fay dan Foster Cline berdasarkan pengalaman puluhan tahun membesarkan (dan bekerja sama dengan) anak-anak. Dengan teknik sederhana dan mudah dipraktikkan, ini membantu para orangtua dan guru mengurangi stress ketika mengajarkan tanggung jawab kepada anak.

Buku ini menyajikan banyak teknik yang dapat langsung diterapkan oleh orangtua dan guru. Contohnya:

  • Membuat aturan dengan kalimat yang mengajak berpikir.
  • Mengendalikan anak dengan mengajukan pilihan.
  • Memberikan hukuman yang mendidik.

Buku ini menawarkan kebahagiaan dalam proses mendidik anak-anak kita tercinta. Anak akan diuntungkan karena mereka dapat mempelajari tanggung jawab dan logika kehidupan dengan berlatih memecahkan masalahnya sendiri. Dan Anda pun akan memperoleh manfaat karena berhasil memegang kendali tanpa kemarahan, ancaman, dan kritikan.
Disajikan dengan gaya bercerita dan dilengkapi dengan “Tips Cinta dan Logika”, buku ini memberi orangtua pedoman yang jelas dan mudah.

Detail Buku
Judul Buku: Mengasuh Buah Hati dengan Cinta dan Logika
Penulis: Foster W. Cline and Jim Fay
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta (www.serambi.co.id)
ISBN: 978-979-024-141-1
Ukuran: 15 x 23 cm, 306 hal. HVS
Terbit: April 2009.

Tentang Penulis
Foster W. Cline, M.D., adalah psikiater anak dan dewasa yang memiliki reputasi internasional. Beliau adalah konsultan organisasi kesehatan mental bagi para orangtua dan sekolah-sekolah di Amerika Utara, dengan spesialisasi anak-anak berkebutuhan khusus.
Jim Fay berpengalaman selama 31 tahun sebagai pendidik dan kepala sekolah. Dia dikenal sebagai salah satu konsultan terkemuka di Amerika dan beberapa kali memperoleh penghargaan di bidang pendidikan.

Read Full Post »