Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2010

Irfan Bachdim

Irfan Bachdim

Timnas Merah Putih sepertinya terus direcoki oleh hal-hal non-teknis. Kini striker timnas, Irfan Bachdim, yang harus terseret dan terjebak dalam pertarungan kepentingan.

Semuanya berawal ketika Persema Malang — klub tempat Irfan mulai merintis karier profesionalnya di Indonesia – memutuskan untuk keluar dari kompetisi Liga Super Indonesia (LSI). Klub berjuluk Laskar Ken Arok itu ingin menjadi klub profesional dan mandiri yang tidak bergantung pada dana APBD seperti kebanyakan klub-klub LSI. Penggunaan dana APBD dinilai membuat klub jadi tidak profesional karena banyak campur tangan, intrik dan kepentingan.

Klub saudara tua Arema Malang itu hengkang dari LSI juga karena sering dirugikan selama berpartisipasi di kompetisi miliki PSSI tersebut. Alhasil, Persema memilih pindah ke Liga Primer Indonesia (LPI) yang menjadi kompetisi tandingan LSI.

PSSI menilai LPI sebagai kompetisi ilegal karena keberadaannya tidak berada di bawah PSSI. Dan sebagai konsekuensi atas keilegalan tersebut, PSSI mengancam akan memberikan sanksi degradasi kepada klub yang bersikeras ikut LPI.

Sialnya, tidak hanya klub saja yang bakal terkena sanksi PSSI.  Ancaman hukuman juga akan menerpa semua yang terlibat dalam klub peserta LPI tersebut.

‘’Sanksi juga akan diberikan kepada semua yang ikut terlibat mulai dari tim manajemen, jajaran pelatih maupun pemain yang saat ini memperkuat klub tersebut,’’ kata CEO PT Liga Indonesia, Joko Driyono, seperti dikutip Antara.

Irfan Bachdim pun akhirnya ikut terseret dan terjebak dalam pertarungan dua kepentingan tersebut. Dia terancam dicoret dari timnas apabila memilih tetap bergabung dengan Persema Malang dan bermain di kompetisi tandingan PSSI.

Irfan Bachdim memang harus memilih. Apakah dia akan memilih LPI demi menghormati kontraknya bersama Persema Malang. Ataukah dia harus tunduk pada ancaman PSSI demi menyelamatkan mimpinya bermain bersama timnas.

Apapun pilihan Irfan, yang pasti adalah ucapan pelatih Alfred Riedl kembali terbukti kebenarannya. Bahwa banyak kepentingan non-teknis yang merecoki.

Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, tidak ragu untuk mencoret Irfan dari timnas jika ngotot tetap bersama Persema Malang untuk bermain di Liga Primer Indonesia — liga ‘sempalan’ yang dinilai ilegal oleh PSSI. Kini bukan lagi alasan teknis dan kemampuannya bermain bola yang akan dijadikan rujukan untuk mencoret dirinya. Tapi, Irfan akan dicoret atau tidak dicoret dari timnas karena dirinya terjebak dalam pertarungan kepentingan. @Republika

Read Full Post »

Tidak hanya curang dengan menggunakan laser untuk merusak para pemain Timnas Indonesia, Malaysia kembali ketahuan mencuri salah satu karya terbaik anak bangsa. Sebuah lagu karya musisi senior Indonesia Imaniar digunakan tanpa izin oleh musisi Malaysia, Misha Omar.

Imaniar menceritakan bahwa awalnya ia dikontrak oleh BMG Indonesia untuk membuat dua album pada tahun 2000. Saat itu, lagu tersebut memang belum ada judulnya. Namun karena ada resesi pada tahun itu, maka lagu miliknya tidak terlalu dipromosikan.

“Lagu diciptain tahun 2000 waktu itu saya di kontrak sama BMG Indonesia dua album kalau gak salah. Terus saya ciptakan lagu ini sama Yossi Hitiyaubesi. Jadilah album yang judulnya IMANIAR gak pakai judul lagu. Kemudian hitnya di situ ditulisnya Semoga Abadi. Dan saya sudah buatkan video klipnya, tapi tidak terlalu populer dan tidak terlalu di promosikan kenapa pada saat itu ada resesi pada tahun 2000. BMG mungkin terbenturnya di situ yang seharusnya Imaniar promosinya penuh menjadi setengah sehingga orang gak banyak tahu lagu ini,” ungkap Imaniar ketika ditemui di Studio 15 Jl. Musi no.34 Tanah Abang II jakarta Pusat.

Setelah tahu digunakan tanpa izin, yang lebih menyakitkan adalah suara Imaniar tetap digunakan dalam lagu milik Misha Omar tersebut. Selain itu tidak ada keterangan pencipta ketika lagu dan CD lagu itu dirilis oleh musisi Malaysia tersebut.

“Mungkin karena tidak terlalu menguntungkan atau gimana saya gak tahu, akhirnya pada tahun 2006 lagu itu di pakai oleh Misha Omar dengan judul yang sama. Cuma di CD atau kasetnya di tulis tidak ada penciptanya yang paling sakit hati suara saya itu di pakai oleh Misha Omar sebagai backing vokalnya. Benar-benar sakit hati kulonuwon (permisi) aja gak ada, jadi benar-benar diinjak deh,” tutur Imaniar.

Inilah lagu Semoga Abadi yang menjadi sumber konflik tersebut, dalam versi Misha Omar yang dibuat tanpa izin:

Read Full Post »