Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Kesehatan’ Category

LAIN kali bila Anda ingin membeli fast food, pikirkanlah otak Anda. Dengan memilih es teh tawar ketimbang minuman soda, ayam bakar ketimbang goreng, tanpa sadar Anda akan terhindar dari dua bahan makanan berbahaya yang biasa dikandung fast food.
Apa saja dua bahan berbahaya tersebut?

1. Lemak jenuh

Dalam sebuah studi di laboratorium, para peneliti Kanada menemukan bahwa makanan kaya lemak jenuh seperti hamburger, keju, krim salad dressing, dan milkshake meningkatkan tingkat protein otak yang berhubungan dengan Alzheimer. Risiko itu pun terhitung delapan kali lebih tinggi daripada makanan kaya lemak ‘baik’ seperti pada ikan dan kacang-kacangan.

2. Gula

Minuman terlalu manis akan menurunkan kemampuan memori dan menggandakan jumlah plak amiloid yang memicu Alzheimer, menurut studi laboratorium di Amerika. Maka itu ada alasan kuat untuk mengatakan tidak terhadap soda, teh manis, dan makanan penutup seperti kue dan pai. (MI/ICH) @YahooNews

Iklan

Read Full Post »

Bayi yang diberi banyak makanan olahan mungkin akan memiliki IQ yang lebih rendah dalam hidup mereka di masa berikutnya, demikian diungkapkan suatu studi di Inggris. Kesimpulan tersebut, yang disiarkan awal pekan ini berasal dari penyelidikan jangka panjang kepada 14.000 orang yang dilahirkan di Inggris barat pada 1991 dan 1992. Kesehatan dan kebugaran mereka dipantau pada usia tiga, empat, tujuh dan delapan-setengah tahun. Orang tua dari anak-anak tersebut diminta mengisi daftar pertanyaan antara lain rincian jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi anak-anak mereka.

Hasilnya dibagi dalam tiga pola makanan yaitu yang memiliki kandungan tinggi gula dan lemak olahan; makanan “tradisional” yang banyak mengandung daging dan sayuran; dan yang terakhir adalah makanan “sadar-kesehatan” dengan banyak selada, buah dan sayuran, pasta dan beras. Ketika anak-anak itu berusia delapan-setengah tahun, IQ mereka diukur dengan menggunakan alat standard yang disebut Wechsler Intelligence Scale. Data dari 4.000 anak menyimpulkan ada perbedaan mencolok dalam IQ pada mereka yang mengkonsumsi makanan “olahan” dibandingkan dengan anak-anak yang mengkonsumsi makanan “sadar-kesehatan”.

Sebanyak 20 persen anak yang banyak mengkonsumsi makanan olahan memiliki IQ rata-rata 101 poin, sementara 20 persen anak yang mengkonsumsi makanan “yang sadar-kesehatan” memiliki IQ 106 poin. “Perbedaannya memang kecil, sih, itu bukan perbedaan yang besar,” kata seorang penulis studi tersebut, Pauline Emmett dari School of Social and Community Medicine di University of Bristol, seperti dilaporkan kantor berita Prancis, AFP.

Hubungan antara IQ dan gizi masih diperdebatkan dengan sengit sebab hal itu dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk latar-belakang ekonomi dan sosial. Satu keluarga dari kelas menengah, misalnya, barangkali lebih tertarik (atau lebih mampu secara finansial) memberikan makanan sehat atau memiliki dorongan lebih kuat untuk merangsang nafsu makan anak mereka, dibandingkan dengan rumah tangga yang lebih miskin.

Emmet mengatakan timnya memberi perhatian khusus guna menyaring kondisi yang membingungkan semacam itu. “Kami telah memantau pendidikan ibu, buat kelas sosial, usia ibu, apakah mereka hidup di perumahan umum, peristiwa selama kehidupan, adanya gangguan, lingkungan tempat tinggal, kegemaran membaca buku dan menggunakan televisi serta lain-lain,” kata Emmet. Ukuran studi itu juga juga tak pernah ada sebelumnya. “Itu adalah contoh yang sangat besar, itu jauh lebih besar daripada apapun yang telah dilakukan orang lain,” kata Emmet dalam wawancara dengan AFP.

Emmet mengatakan kegiatan lebih lanjut diperlukan untuk melihat apakah dampak nyata pada IQ itu terus berlangsung saat anak-anak tersebut bertambah usianya. Ketika ditanya mengapa “junk food” memiliki dampak semacam itu, ia menyatakan makanan yang diolah secara berlebih dapat kekurangan unsur dan vitamin penting bagi perkembangan otak besar pada tahap penting masa awal kanak-kanak.

“Makanan ‘junk food’  tidak bagus buat perkembangan otak,” katanya. Studi itu disiarkan di Journal of Epidemiology and Community Health, yang disiarkan oleh British Medical Association (BMA). (AFP/Ant/ARI) @Liputan6.com

Read Full Post »

Bahaya yang mengancam kesehatan ternyata ada di dalam rumah Anda sendiri. Apa saja?

Siapa sangka, barang-barang di rumah kita bisa menjadi sumber penyakit yang berbahaya bagi kesehatan. Berikut daftar barang-barang tersebut, seperti yang dikutip dari Genius Beauty.

1. Talenan kayu. Hingga kini, benda ini masih menjadi barang yang selalu ada di dapur. Fungsinya sebagai tatakan saat memotong bahan-bahan mentah untuk di masak. Menurut John Oxford, peneliti dari Universitas London, sebuah talenan kayu dapat menyimpan ribuan bakteri penyebab penyakit. Sisa potongan makanan yang mengendap dapat membuat koloni bakteri baru dan mengendap di kayu. Bakteri tersebut akan menempel di setiap bahan makanan yang kita potong.

2. Talenan plastik. Seringkali digunakan untuk mengganti talenan kayu yang lebih tradisional. Tak semua talenan terbuat dari plastik yang aman. Bahan plastik bisa berbahaya jika tidak sengaja terkonsumsi. Pilihlah produk talenan plastik yang menjamin keamanan plastiknya. Jika Anda tak yakin, saat talenan sudah tergores, lebih baik ganti dengan yang baru.

3. Sikat gigi. Peneliti dari Universitas Manchester mengungkap bahwa sebanyak 10 juta bakteri bisa berkumpul di sikat gigi. Tak hanya itu, virus penyakit dan jamur bisa berkembang biak di sana. Para peneliti menyarankan Anda untuk mengganti sikat gigi 2-3 bulan sekali.

4. Handuk. Kondisinya kurang lebih sama dengan sikat gigi. Dan untuk menghilangkan bakteri yang berkumpul di dalamnya, perlu pemanasan hingga 90 derajat celcius.

5. Bantal. Bakteri yang berkumpul pada bantal bisa menyebabkan gangguan pernapasan, gatal-gatal dan demam. Professor Jean Amberline, dari British Society for Allergy menyarankan untuk mengganti sarung bantal secara teratur, serta mengganti bantal setiap 2 tahun sekali.
@Ayu Kinanti; Yahoo Newsroom

Read Full Post »

Zat aktif temulawak untuk obat lever, antikanker, serta jantung dipatenkan pihak asing di Amerika Serikat. Temulawak merupakan jenis tanaman asli Indonesia dan jika dijadikan sebagai zat aktif obat-obatan komersial, semestinya diatur pembagian manfaatnya.

”Ini bagian dari biopiracy (pembajakan sumber daya genetik) yang semestinya diatur benefit sharing atau pembagian manfaatnya,” kata Ketua Umum Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI) Hardhi Pranata, Selasa (19/10), pada Konferensi Internasional Tanaman Obat-obatan yang diselenggarakan 19-21 Oktober 2010 di Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta.

Hardhi mengatakan, ketiga obat herbal dari zat aktif temulawak (Curcuma xanthorrhiza) itu sejak dua atau tiga tahun terakhir diproduksi perusahaan obat di Indonesia dan sudah beredar di pasaran. Perusahaan itu pun terikat pendaftaran paten dari Amerika Serikat.

”Harga obat-obatan herbal itu sekarang 1.000 kali lipat lebih mahal daripada obat dengan bahan mentah yang sama yang sebenarnya sejak lama juga diproduksi di dalam negeri,” kata Hardhi.

Obat herbal yang diproduksi negara-negara lain dengan bahan mentah dari Indonesia telah menunjukkan naiknya kecenderungan minat masyarakat dunia terhadap obat herbal, tetapi Indonesia tidak siap melindungi sumber daya genetiknya.

”Tren pengobatan kembali kepada alam mulai diminati dan sebanyak 12 rumah sakit pun berhasil didorong supaya membuka klinik jamu,” kata Hardhi.

Ke-12 rumah sakit tersebut adalah Rumah Sakit Umum Sanglah, Bali; RS Kanker Dharmais, Jakarta; RS Persahabatan, Jakarta; dan RS Dr Soetomo, Surabaya.

Kemudian RS Wahidin, Makassar; RS Angkatan Laut Mintohardjo, Jakarta; RS Pirngadi, Medan; RS Syaiful Anwar, Malang; RS Dr Suharso, Solo; RS Dr Sardjito, Yogyakarta; RS Suraji, Klaten; dan RS Kandau, Manado.

Saintifikasi jamu

Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional pada Kementerian Kesehatan Indah Yuning Prapti mengatakan, saat ini masih ditempuh program saintifikasi jamu untuk memberikan bukti-bukti ilmiah terhadap isi atau kandungan jamu.

”Saintifikasi ini berkaitan dengan pemberian standar jamu kepada pasien, tetapi sekaligus pencapaian standar bahan-bahan herbal yang digunakan,” kata Indah.

Saat ini beredar sekitar 3.000 produk obat herbal di Indonesia. Menurut Indah, hanya sebagian kecil saja yang sudah teruji secara klinis melalui uji coba pada manusia dan dinyatakan sebagai fitofarmaka.

Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi Listyani Wijayanti mengatakan, saat ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) hanya menyatakan sebanyak lima jenis obat herbal sebagai fitofarmaka, yaitu obat-obatan herbal untuk imunomodulator atau kekebalan tubuh, hipertensi, rematik, diare, dan stamina khusus pria.

Hardhi mengatakan, pada 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan supaya jamu digunakan untuk mengobati pasien oleh para dokter. Namun, harus diakui adanya kesulitan standar bagi dokter untuk meresepkan obat-obat herbal tersebut.

Proses saintifikasi jamu, menurut Hardhi, sekarang ini sangat menunjang tiga prinsip penyembuhan pasien, yaitu tepat dosis, tepat waktu, dan tepat pasien.

”Saintifikasi jamu mendukung pemanfaatan jamu tidak hanya preventif atau pencegahan saja, tetapi juga bisa untuk kuratif atau penyembuhan,” kata Hardhi.

Indah mengatakan, produksi jamu masih sering menghadapi persoalan kesinambungan bahan baku. Namun, sebagian petani produsen bahan baku jamu justru kerap mengeluhkan, bahan-bahan yang diproduksi tidak selalu terserap pasar. – (NAW) sumber: Kompas.com

Read Full Post »

Manfaat dan khasiat daun teh umumnya lebih terfokus pada teh hijau. Padahal, baik teh hijau dan teh hitam sama-sama punya khasiat terhadap kesehatan. Hampir semua jenis teh ternyata berperan besar terhadap kesehatan peminumnya, hal ini karena teh mengandung senyawa antioksidan seperti polifenol, flavonoid, L-theanin.

Seperti yang diuraikan oleh Peter C.H. Hollman, peneliti dari Waginingen University, Belanda, senyawa antioksidan dalam teh berguna sebagai zat antikanker, menekan hormon stres, serta meningkatkan fungsi pembuluh darah yang akan mencegah penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung dan stroke.

“Teh merupakan sumber flavonoid yang punya efek langsung terhadap kesehatan pembuluh darah,” kata Hollman dalam jumpa pers acara Tea Science Symposium yang diadakan oleh Lipton Institute of Tea di Jakarta (14/7).

Dalam penelitian meta analisis yang dilakukannya, terbukti mereka yang mengonsumsi teh tiga cangkir setiap hari risikonya terkena stroke berkurang hingga 20 persen. “Baik teh hitam atau teh hijau punya efek perlindungan yang sama,” paparnya. Berbagai riset juga sudah menguji hubungan teh dengan penyakit kardiovaskular, baik yang sifatnya jangka pendek hingga jangka panjang.

Menurut penjelasan Visvajit De Alwis, general manager Tea Buying Division PT.Unilever Indonesia, teh hitam adalah teh berwarna hitam kecoklat-coklatan, bercita rasa “kaya”, yang dihasilkan lewat proses fermentasi. Adapun teh hijau ialah teh berwarna hijau yang dihasilkan melalui proses
pengukusan cepat untuk menghambat terjadinya perubahan warna daun dan terjadinya fermentasi. Di Indonesia, jenis teh hitam lebih populer dibanding teh hijau. @Kompas.com

Read Full Post »

Los Angeles – Restoran cepat saji, McDonald’s menarik 12 Juta gelas minum yang mempromosikan film Shrek terbaru mulai hari ini, Jumat (4/6). Gelas itu ditarik karena cat untuk menggambar figur dalam film Shrek di gelas tersebut mengandung logam beracun, cadmium.

Logam beracun Cadmium itu terkandung dalam cat bisa meresap masuk ke tangan anak lalu masuk dapat dengan sangat mudah masuk ke tubuh apalagi bila anak tidak mencuci tangannya. Cadmium dapat merusak hati, ginjal, paru-paru, sistem syaraf dan otak.

Gelas berukuran 454 gram dijual dengan harga US$ 2. Gelas tersebut tersedia dalam empat desain yang menggambarkan karakter utama dalam film animasi, Shrek.

Juru bicara McDonald’s Amerika Serikat, Bill Whitman menyatakan pihaknya tetap yakin bahwa gelas tersebut tidak berbahaya. »Namun, untuk memastikan pelanggan menerima produk yang aman dari kami, maka kami membuat keputusan untuk menghentikan penjualan dan menarik gelas ini,” ujarnya. @TEMPO Interaktif.

Read Full Post »

Banyak orang menganggap air minum kemasan botol bebas bakteri penyakit. Lantaran melalui proses pengolahan, air kemasan dipercaya lebih sehat ketimbang air keran. Benarkah?

Studi Ccrest Laboratories Kanada menemukan, air minum kemasan botol mengandung bakteri, 100 kali lebih banyak, daripada batas yang diperbolehkan. Sebanyak 70 persen air kemasan botol merek populer di Kanada mengandung kadar bakteri lebih tinggi daripada air keran.

Pakar mikrobiologi Dr Sonish Azam dari Ccrest Laboratorium, yang memimpin studi, mengatakan, klaim produsen air kemasan tentang kemurnian air tidak benar. “Jumlah bakteri heterotrofik dalam botol memiliki angka yang jauh melampaui batas yang dizinkan.”

Dr Azam mengatakan, kontrol yang lebih ketat perlu dikenakan pada produsen air kemasan. “Botol air minum kemasan memang tidak akan bebas dari mikroorganisme. Tetapi tingkat yang diamati dalam studi sangat mengejutkan,” katanya.

Tingginya bakteri dalam air kemasan, menurut Azam, berisiko bagi populasi yang rentan, seperti bayi, anak-anak, ibu hamil dan sistem kekebalan orang lanjut usia. Di Kanada, kualitas air keran lebih memenuhi syarat kesehatan, dibandingkan air kemasan.

Ahli Gizi Dr Chris Fenn mengatakan, air kemasan tidak diperlukan dengan tersedianya sistem air minum yang cukup baik di sebuah negara. “Kualitas air keran yang baik membuat tidak ada masalah seperti yang ditemukan dalam air kemasan,” katanya seperti dimuat laman Telegraph.

Di sejumlah negara maju, pemerintah memang menyediakan sistem air keran siap minum. Air yang mengucur lewat keran di rumah bisa langsung dikonsumsi tanpa dimasak. Sedangkan di Indonesia air keran belum memenuhi standar siap minum.

Permasalahan yang sering muncul di negara kita adalah buruknya kualitas air minum isi ulang. Beberapa waktu lalu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menemukan ratusan depo yang menjual air minum isi ulang mengandung bakteri E-Coli. @sumber: VIVAnews

Read Full Post »

Older Posts »