Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2009

Facebook akhirnya meresmikan aturan terbaru mereka seputar kontrol masalah privasi yang telah banyak menuai protes selama beberapa bulan terakhir.

Sebelum meresmikan aturan baru ini, pekan lalu, Mark Zuckerberg, pendiri Facebook mengirimkan surat terbuka pada seluruh 350 juta penggunanya. Ketika itu ia menjanjikan bahwa akan ada perubahan di Facebook.

Intinya, pilihan-pilihan baru yang disediakan akan memungkinkan pengguna mengustomisasi setiap status update ataupun apapun yang mereka post dan upload. Misalnya oleh konten tersebut bisa dilihat dan lain-lain.

“Facebook melakukan transformasi terhadap kemampuan dunia untuk mengontrol informasi secara online dengan mendorong lebih dari 350 juta orang untuk melakukan personalisasi siapa yang bisa melihat setiap konten apapun yang mereka pasang,” kata Elliot Scharge, Vice President of Communications, Public Policy and Marketing Facebook pada keterangan resminya, 10 Desember 2009.

Scharge menyebutkan, pihaknya mendesain Facebook agar orang bisa mengontrol informasi apa yang ingin bagikan pada siapa. “Itu alasan kami mengapa layanan kami menarik perhatian berbagai kelompok pengguna dari seluruh dunia,” kata Scharge. “Pengumuman yang kami lakukan hari ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pengguna,” ucapnya

Adapun perubahan yang paling signifikan yang dilakukan Facebook adalah opsi privacy yang kini tersedia untuk seluruh pengguna setiap kali mereka melakukan update status atau upload foto. Opsi yang ada kini memungkinkan pengguna mengubah konten tersebut apakah dapat dilihat oleh hanya teman, teman dari teman, semua orang, atau kustomisasi sendiri.

Fitur baru lainnya yang disediakan adalah kemampuan untuk membuat daftar teman dan mengelompokkan teman-teman berdasarkan apa yang ingin pengguna bagikan dengan mereka.

Opsi ini memungkinkan pengguna untuk berbagi foto hanya dengan keluarganya, atau membuat opini yang bisa dibaca oleh semua orang. Terakhir, Facebook juga menghapuskan regional network, fitur yang sudah usang untuk sebuah situs dengan 350 juta pengguna. sumber: YahooNews

Iklan

Read Full Post »

Mereka yang tinggal di pemukiman miskin mungkin meninggal lebih cepat dibanding  warga di lingkungan yang lebih sejahtera,  demikian hasil penelitian terbaru di AS.

Temuan itu – bahwa di mana Anda tinggal mungkin mempengaruhi berapa lama Anda hidup – merupakan hasil studi yang melibatkan lebih dari 565.000 responden berusia di atas paruh baya dan lansia yang terdaftar di NIH-AARP Diet and Helthy Study, riset yang mengumpulkan data mengenai makanan, gaya hidup, dan catatan medis.  Ciri khas permukiman diambil dari data sensus AS untuk tahun fiskal 2000.

“Ada peningkatan resiko kematian dari setiap penyebab atau kanker di permukiman yang buruk secara sosial-ekonomi,” ungkap Dr Chyke Doubeni seperti dikutip Reuters Health.

Yang menjadi catatan, kata Doubeni, peningkatan risiko tetap ada bahkan setelah memperhitungkan perbedaan dalam pola makan dan resiko lain kesehatan individu.

Doubeni, pembantu profesor dalam bidang kesehatan masyarakat dan pengobatan keluarga serta wakil asisten pembantu rektor di University of Massachusetts Medical School di Worcester, menyampaikan temuan ini pada pertemuan American Association for Cancer Research (AACR) Conference on Frontiers in Cancer Prevention Research di Houston.

“Kami berharap, setelah memantau seluruh faktor resiko medis serta gaya hidup, perbedaan akan hilang. Kami terkejut karena perbedaan masih ada setelah pemantauan faktor gaya hidup seperti merokok, makanan, olahraga dan resiko medis,” ” kata Doubeni di dalam pernyataan di konferensi tersebut.

Di antara responden , banyak orang dewasa dari pemukiman yang paling miskin melaporkan kondisi makanan dan kesehatan lebih buruk dan rata-rata indeks masa tubuh yang lebih berat. Bahkan, ketika semua faktor risiko ini dan yang lain diperhitungkan, peluang mereka untuk meninggal tetap naik seiring tingkat kemiskinan yang meningkat, demikian temuan Doubeni dan rekannya.

Dibandingkan orang yang tinggal di permukiman yang tak terlalu parah, mereka yang tinggal di permukiman paling miskin rata-rata menghadapi resiko 22 persen lebih tinggi untuk meninggal selama 10 tahun masa studi, tanpa memperhitungkan apa pun makanan dan bagaimana gaya hidup mereka.  Sumber: KOMPAS.com

Read Full Post »