Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2010

Banyak orang menganggap air minum kemasan botol bebas bakteri penyakit. Lantaran melalui proses pengolahan, air kemasan dipercaya lebih sehat ketimbang air keran. Benarkah?

Studi Ccrest Laboratories Kanada menemukan, air minum kemasan botol mengandung bakteri, 100 kali lebih banyak, daripada batas yang diperbolehkan. Sebanyak 70 persen air kemasan botol merek populer di Kanada mengandung kadar bakteri lebih tinggi daripada air keran.

Pakar mikrobiologi Dr Sonish Azam dari Ccrest Laboratorium, yang memimpin studi, mengatakan, klaim produsen air kemasan tentang kemurnian air tidak benar. “Jumlah bakteri heterotrofik dalam botol memiliki angka yang jauh melampaui batas yang dizinkan.”

Dr Azam mengatakan, kontrol yang lebih ketat perlu dikenakan pada produsen air kemasan. “Botol air minum kemasan memang tidak akan bebas dari mikroorganisme. Tetapi tingkat yang diamati dalam studi sangat mengejutkan,” katanya.

Tingginya bakteri dalam air kemasan, menurut Azam, berisiko bagi populasi yang rentan, seperti bayi, anak-anak, ibu hamil dan sistem kekebalan orang lanjut usia. Di Kanada, kualitas air keran lebih memenuhi syarat kesehatan, dibandingkan air kemasan.

Ahli Gizi Dr Chris Fenn mengatakan, air kemasan tidak diperlukan dengan tersedianya sistem air minum yang cukup baik di sebuah negara. “Kualitas air keran yang baik membuat tidak ada masalah seperti yang ditemukan dalam air kemasan,” katanya seperti dimuat laman Telegraph.

Di sejumlah negara maju, pemerintah memang menyediakan sistem air keran siap minum. Air yang mengucur lewat keran di rumah bisa langsung dikonsumsi tanpa dimasak. Sedangkan di Indonesia air keran belum memenuhi standar siap minum.

Permasalahan yang sering muncul di negara kita adalah buruknya kualitas air minum isi ulang. Beberapa waktu lalu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menemukan ratusan depo yang menjual air minum isi ulang mengandung bakteri E-Coli. @sumber: VIVAnews

Iklan

Read Full Post »

Sri Mulyani Indrawati

Sri Mulyani Indrawati

Washington –  Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjadi salah satu kandidat untuk menjadi penasehat utama Presiden Bank Dunia Robert Zoellick.

Sri Mulyani akan menjadi salah satu dari tiga Managing Director. Jabatan Managing Director merupakan jabatan tertinggi kedua setelah Presiden Direktur di Bank Dunia.

Dalam pernyataannya lewat surat elektronik, Zoellick mengatakan Sri Mulyani akan mulai bekerja di kantor pusat Bank Dunia di Washington per 1 Juni.

Menurut Zoellick, Sri Mulyani dipilih karena memiliki kemampuan yang unik dan pengalamannya bekerja di Grup Bank Dunia.

Sri Mulyani, 47 tahun, akan menggantikan Juan Jose Daboub. Daboub, mantan Menteri Keuangan El Salvador, telah menyelesaikan masa jabatannya yang keempat pada 30 Juni nanti.

Managing Director terakhir yang ditunjuk Zollickpada Oktober 2007 adalah Ngozi Okonjo-Iweala, mantan Menteri Keuangan dan Menteri Luar Negeri Nigeria.

Managing Director ketiga, Graeme Wheeler, pada Januari lalu mengatakan ia akan meninggalkan institusi keuangan internasional ini akhir bulan depan. Wheeler sebelumnya bekerja di Departemen Keuangan Selandia baru sebelum bergabung dengan Bank Dunia.

“Ini merupakan kehormatan terbesar bagi saya dan juga buat Indonesia. Ini merupakan kesempatan untuk memberikan kontribusi dalam menjalan misi bank mengubah dunia,” kata Sri Mulyani dalam pernyataannya.

Sri Mulyani dan Wakil Presiden Boediono sampai hari ini masih menjadi target lawan-lawan politiknya terkait pengucuran dana penyelematan Bank Century senilai Rp 6,7 triliun pada 2008.

Dalam rilisnya pada 4 Mei, Bank Dunia menyebut Sri Mulyani telah berhasil membawa perekonomian Indonesia keluar dari krisis ekonomi global jilid dua.  @Tempo-Interaktif

Read Full Post »

Sri Mulyani Indrawati

Sri Mulyani Indrawati

Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dikabarkan akan mengundurkan diri dari jabatannya per 1 Juni 2010 dan menerima tawaran dari Bank Dunia.

Bank Dunia menawarkan jabatan kepada Sri Mulyani sebagai Managing Director di lembaga keuangan internasional itu.

“Ya, berita itu betul. Ibu Ani akan menerima tawaran Bank Dunia itu,” kata sumber Tempo di Jakarta hari ini.

Menurut sumber, Bank Dunia memang meminta empat Menteri Keuangan dari empat negara untuk membantu lembaga. “Jabatan itu tidak bisa dirangkap, jadi Sri Mulyani harus memilih dan dia memilih menerima tawaran itu.”

Sayangnya, konfirmasi langsung dari Sri Mulyani belum bisa diperoleh Tempo.

Sri Mulyani akan menjadi salah satu dari tiga Managing Director Bank Dunia. Jabatan Managing Director merupakan jabatan tertinggi kedua setelah Presiden Direktur di Bank Dunia.

Dalam pernyataannya lewat surat elektronik, Zoellick mengatakan Sri Mulyani akan mulai bekerja di kantor pusat Bank Dunia di Washington per 1 Juni.

Menurut Zoellick, Sri Mulyani dipilih karena memiliki kemampuan yang unik dan pengalamannya bekerja di Grup Bank Dunia.

Sri Mulyani, 47 tahun, akan menggantikan Juan Jose Daboub. Daboub, mantan Menteri Keuangan El Salvador, telah menyelesaikan masa jabatannya yang keempat pada 30 Juni nanti. @Tempo-Interaktif .

Read Full Post »