Presiden SBY diimbau agar jangan diam melihat polemik tentang rekaman yang menyangkut rekayasa 2 pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Jika penyelidikan Polri macet, Presiden harus bertindak.
“Presiden kalau melihat itu ada kemacetan tidak boleh terlalu lama (diam),” ujar Imam B Prasodjo.
Hal itu disampaikan sosiolog yang juga concern pada masalah pemberantasan korupsi itu kepada detikcom, Selasa (27/10/2009).
Presiden, imbuhnya, harus menyelamatkan lembaga negara. Karena kasus ini mempertaruhkan integritas Polri dan Kejaksaan. Presiden harus mendorong aparat hukum untuk segera menindaklanjuti informasi yang sudah beredar luas di masyarakat ini.
“Presiden harusnya menindak, mengintervensi orangnya, terhadap pelaksananya, bukan terhadap kasusnya. Harus mengusut karena nama baik dia (Presiden) dipertaruhkan,” tukas Imam.
Seperti diberitakan, transkrip rekaman yang beredar menyebutkan perbincangan orang yang suaranya mirip dengan Anggoro Widjojo dan adiknya, Anggodo, pejabat Kejagung berinisial W dan A, staf Kejaksaan berinisial I dan beberapa orang lainnya.
Rekaman itu menunjukkan adanya kedekatan hubungan antara oknum di Kejagung dengan buronan KPK.
Dalam transkrip rekaman yang beredar luas itu, SBY dicabut sebagai orang yang mendukung Abdul Hakim Ritonga, pejabat Kejagung. “Pokoke saiki Pak SBY mendukung. SBY itu mendukung Ritonga lo,” ujar seorang wanita bernama Yuliana Gunawan atau Lien, dalam percakapan dengan seorang pria yang suaranya mirip Anggodo pada percakapan 6 Agustus.
Ketua KPK Tumpak Hatorangan Panggabean, Senin (26/10/2009) kemarin, membenarkan adanya rekaman yang berisi rekayasa kasus atas pimpinan KPK yang dilakukan oleh pejabat Kejagung dan Mabes Polri. Rekaman itu menurut Tumpak masih disimpan rapat KPK. Ia heran transkrip rekaman itu bisa beredar luas.
Pejabat Kejagung yang disebut-sebut dalam rekaman itu adalah Abdul Hakin Ritonga dan mantan Jamintel Wisnu Subroto. Sementara pejabat Mabes Polri yang disebut-sebut dalam rekaman itu adalah Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Susno Duadji dan mantan Wakabareskrim Irjen Pol Hadiatmoko. @detik.com
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, rabu malam (21/10) telah mengumumkan para pembantunya yang duduk di Kabinet Indonesia Bersatu II. Tak ada yang istimewa dari nama-nama menteri yang ditunjuknya. Sebab setelah SBY melakukan audisi terhadap para calon menterinya, media massa telah bisa menebak susunan anggota kabinet baru.
Fenomena munculnya ayat Alquran di tubuh bayi asal Rusia Selatan, Ali Yakubov disikapi beragam. Pihak kedokteran ada yang menganggap hal itu sebagai suatu hal yang murni ajaib. Namun ada pula yang menganggapnya sebagai suatu hal yang dibuat-buat.
JAKARTA, KOMPAS.com - Praktisi hukum senior Todung Mulya Lubis menyatakan dirinya bersikap skeptis menanggapi susunan kabinet yang disusun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, terutama terkait tim hukum dan perekonomian, yang dinilainya masih mencerminkan praktik bagi-bagi kekuasaan dan politik balas budi.
Seorang bayi menimbulkan gelombang spekulasi di Rusia setelah frase-frase yang diduga sebagai ayat Alquran muncul di kulit tubuhnya. Ayat-ayat ini dikatakan tampak di punggung, lengan, kaki, dan perut bayi berusia sembilan bulan bernama Ali Yakubov sebelum kemudian hilang dan diganti dengan ayat-ayat baru.
Ibu si bayi mengatakan, “Biasanya tanda-tanda itu muncul dua kali seminggu, pada hari Senin dan pada malam antara Kamis dan Jumat. Ali selalu merasa kesakitan ketika itu muncul. Dia menangis dan suhu tubuhnya tinggi. Tidak mungkin menggendongnya ketika itu terjadi. Badannya aktif bergerak, maka kami menempatkan dia di ayunannya. Sedih rasanya ketika melihat dia menderita.” Frase-frase itu, kata Madina, secara teratur bergantian muncul di kulit si bayi.


